Beli Gelar Sarjana

Akhirnya lulus juga dari genggaman institusi pendidikan. Jadi ternyata gini rasanya bebas dari rutinitas dan perbudakan sistem.

Aku ngerasa sistem institusi pendidikan itu lucu. Awalnya aku ngerasa aneh dan terbebani sih, tapi lama-lama, ya sudahlah, dibikin lucu aja. Hidup ini bukan tragedi, kok. Kita semua hanya memainkan peran yang diberikan Semesta.

Jadinya, di post ini, aku ngajak semua orang buat diskusi tentang sistem pendidikan yang ada sekarang, gimana dengan konspirasi dan manipulasi, dia udah jadi semacam institusi berbasis bisnis dan perekonomian dan kemungkinan sistem pendidikan yang bisa dikembangkan nantinya.

Apa tujuan sekolah?

Dari aku mulai kerasa males banget bangun pagi buat sekolah, aku akhirnya penasaran sama satu hal ini: Ngapain sih kok bisa ada sekolah barang?

Jadi aku mulai mikir dari dasarnya.

Ada sekelompok masyarakat yang tinggal bersama di suatu wilayah dan mereka butuh bertahan hidup. Untuk bertahan hidup, manusia butuh keahlian khusus.

Keahlian yang kayak gimana?

Awalnya mungkin hanya dibutuhkan ahli ketrampilan dasar buat bertani, berburu, dan memasak. Tapi kalo udah dibawa ke sistem yang lebih besar, dimana kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya saling berinteraksi, mulai dibutuhkan ketrampilan dasar buat mempertahankan diri—baik secara material, dengan bela diri semacamnya dan secara abstrak, dengan sistem adat dan kepercayaan semacamnya.

Kebutuhan dan akal manusia yang terus berkembang dan mempertanyakan apa, kenapa, dan bagaimana akhirnya menjadikan kebutuhan ketrampilan dasar ini ikutan berkembang dan meluas.

Peradaban mengembangkan diri menjadi berbagai cabang ilmu pengetahuan yang kompleks. Mencari kekuatan yang lebih besar dari semesta ini, berkembang agama; mencari ke langit dengan bintang-bintang semacamnya, berkembang astronomi; mencari ke hewan-hewan ternak dan sekitarnya, berkembang biologi; mencari kebutuhan buat senang-senang aja, berkembang kesenian.

Yang menjadi agak simalakama adalah, mencari kestabilan dalam kelompok hidup bersama; lahirlah sistem otonomi, politik, dan ekonomi.

Kita membutuhkan ‘sistem’ ini supaya bisa berjalan berdampingan, tapi meleng dikit aja, ‘sistem’ ini akan menghancurkan kita sendiri. Kenapa?

Karena nggak semua orang punya pemikiran yang sama.

Anyway, dengan terbentuknya berbagai bidang keahlian, muncul para ahli di bidang masing-masing yang ditunjuk masyarakat menjadi seorang ‘guru’. Dasarnya, sistem persekolahan dimulai dari sini. Mereka yang ingin belajar keahlian khusus pergi mencari tahu dan belajar pada guru-guru.

Oh.

Oke.

Jadi ternyata belajar itu memang dibutuhkan. Tapi bukan sekolahnya kan?

Tentang konspirasi lembaga pendidikan

Kalo bukan sistemnya yang salah, berarti individunya. Gimana pun, dengan abstraknya, dari jaman kepemimpinan kepala suku, kerajaan monarki, sampai kepemerintahan negara persatuan, selalu ada kepentingan pihak tertentu yang didahulukan di setiap penetapan peraturan atau kebijakan.

Begitu juga dengan peraturan pajak. Begitu juga dengan kebijakan perluasan daerah kekuasaan. Begitu juga dengan ketetapan sebuah sistem kepemerintahan untuk mengedukasi rakyatnya, i.e. sistem sekolah.

Kalo mau diidealkan, sekolah diadakan-dibangun-diciptakan buat membimbing ‘murid’ buat dia bisa bertahan hidup dengan mengajarkan berbagai ketrampilan dasar dan keahlian khusus.

Apakah sekolah yang ada sekarang sudah ideal?

 

Di berbagai belahan dunia, sistem perekonomian dan teknologi yang berkembang menciptakan sebuah revolusi industri. Mereka yang (kebetulan) berinovasi, jadi kaya dan semakin kaya, mereka yang (kebetulan belum atau) tidak berinovasi, jadi miskin dan semakin miskin.

Pernah kepikiran kalo bisa jadi aja sistem sekolah yang idealnya ditujukan untuk mendidik, pada akhirnya berevolusi menjadi peternakan buruh industri?

Secara bijaksana aja, kalo diliat dari sejarah di Indonesia, tujuan diadakannya sekolah memang bagus. Negara dan pemerintah mau mengedukasi rakyatnya biar nggak dikadal-kadalin penjajah. Tapi, kita nggak lagi butuh sekolah kalo cuma konspirasinya sekedar buat menuhin kuota pekerja buruh industri, ya kan?

Kalo dirasa-rasa lagi, dibandingkan jadi sebuah lembaga atau institusi yang membuka wawasan masyarakatnya, selama sejarahnya, sekolah malah jadi alat konspirasi politik agama dan ekonomi.

Atas nama ingin mendidik anak bangsa, di institusi sekolah, murid diajarkan pelajaran sejarah yang menitik beratkan pihak tertentu dalam politik.

Atas nama ingin mendidik anak bangsa, di institusi sekolah, murid diajarkan pelajaran agama yang mendiskriminasi satu sama lain.

Atas nama ingin mendidik anak bangsa, di institusi sekolah, murid dipaksa mempelajari banyak bidang keilmuan supaya lebih luas kesempatannya untuk bekerja di berbagai bidang industri yang sedang membutuhkan buruh kerja.

Atas nama ingin mendidik anak bangsa, di institusi sekolah, murid dan orang tua wali dikuras kantongnya untuk membiayai berbagai “kebutuhan sekolah”.

Catatan

“Education is a natural process carried out by the child and is not acquired by listening to words but by experiences in the environment.” Maria Montessori, (1870-1952), Pendidik yang mengembangkan sistem belajar Montessori, asal Italia

Seandainya kita sadar kalau belajar itu adalah proses yang alami dari sananya, kita akan mulai bisa melihat kalo sekolah hanya sekedar bisnis jual-beli komoditas gelar sarjana.

 

Referensi:

Tanjung, F.A. (2015). Sejarah Pendidikan di Indonesia dan Perkembangannya Antar Generasi. Web article. Retrieved July 6, 2015 from http://www.bglconline.com/2015/01/sejarah-pendidikan-di-indonesia-dan-perkembangannya/.

The Big Picture (2010). Rethinking Education, Part I : Why Our School System Is Broken. Web article. Retrieved July 6, 2015 from http://www.geopolitics.us/why-our-school-system-is-broken/.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *